Ketika Pikiran Tertipu oleh Kenyataan

Apa sih susahnya hidup?

...

Jujur, saya sedang berada pada ambang kebingungan dari yang namanya kehidupan.
Ya, kehidupan itu semakin lama semakin buntet macam ekor babi.

Ngomongin tentang kehidupan, jadi ingat masa kecil nih.
Bebas, lepas, dari pagi sampai sore. Malamnya jadi tawanan rumah...
Pagi sekolah, bertemu teman2. Siang pulang, bermain di sekitar rumah sampai sore.
Jadinya sih, nggak sepenuhnya bebas ya. Tapi rasanya itu, sensasinya itu beda sama dewasa ini.
Dulu, kita nggak punya yang namanya kehirauan, kekhawatiran.
Adanya malah kita dikhawatirkan sama orang tua, apakah saya nakal diluar rumah atau bagaimana...
Ya, saya cuek pada masa kecil itu.
Selagi kita masih dalam pertanggungjawaban orang tua, seenggaknya kita bisa bermain sepuas mungkin.
Tapi, dalam benak indah kita bernostalgia zamannya Nintendo sangat adiktif, coba deh hilangkan benak itu.
Karena, kenyataannya kita sudah bukan anak kecil lagi.
Inilah waktu dimana pertanggungjawaban dari kehidupan sehari-hari kita, ya kita yang mengurusnya.
Mungkin kalau saya belum sepenuhnya mempertanggungjawabkan kehidupan ya,
Karena uang pun masih dikirim oleh orang tua, diri sendiri belum bisa menghasilkan nafkah.
Tapi mari kita coba kesampingkan masalah uang dulu.
Ya, saya adalah mahasiswa yang sedang dilanda dilema, kebingungan, dan segala jenis kecemasan.
Bagaimana tidak, saya merasa selama satu semester ini saya telah salah memilih jurusan.
Kurangnya eksplorasi jurusan sih yang sebenarnya bisa dijadikan alasan.
Namun, apakah bukan diri saya sendiri yang menentukan?
Kenapa bisa salah? Apakah saya harus menyalahkan jurusannya?
Tentu tidak. Diri saya sendiri yang seharusnya membenahi mindset awal saya.
Nah, dari kecemasan tersebut, saya bisa sedikit mengambil hikmah.
"Lihat, simak, pahami, dan beri ulasan. Tiada tujuan tanpa perencanaan."
Ya, mungkin tata bahasa saya hancur atau bagaimana.
Tapi, bodo amat ya. Setidaknya ada sedikit keterkatian dari post ini.

...

Dan lagi, bukan hanya masalah akademik yang saya cemaskan.
Tidak lain lagi, jatuh hati.
(Bersambung...)



Leave a Reply