Setelah setahun lamanya,
Berkelana di tanah Sunda. Lebih tepatnya kuliah. 2 kesan yang aku dapatkan untuk kuliah adalah,
Seru & penuh penyadaran.
---
Seru, karena kehidupan setelah SMA dan terlepas dari orang tua benar-benar sesuatu hal yang sungguh baru bagi hidupku.
Seru, karena teman-teman yang aku jumpai dan hidup bersama selama kuliah bermacam-macam asal & latar belakangnya.
Seru, karena bisa merasakan kehidupan sendiri, mengurus hidup sendiri, tapi sayang belum bisa menghasilkan nafkah.
Ya, bukan kuliahnya sih yang seru, tetapi pengalaman hidup selama berkuliah ya.
Penuh penyadaran. Kenapa?
Aku sadar, bahwa aku hanya menyukai kebudayaan Jepang, tetapi aku tidak menggemari huruf kanji.
Aku sadar, bahwa aku lebih menyukai bahasa Korea.
Aku sadar, bahwa setelah kakak-kakakku lulus, ibu dan adik tinggal berdua dirumah. Ayah pun masih mempunyai tanggungan pekerjaan di luar pulau.
Dan, aku sadar, bahwasanya aku harus kembali pulang. Bukan untuk liburan, bukan untuk temu kangen, tetapi benar-benar untuk melanjutkan(pindah) studi serta melindungi, melayani ibu dan adikku sebagai anak laki-laki yang tersisa untuk dipercayakan.
Setiap harinya, aku sebisa mungkin berjuang dan berdoa demi kembalinya diriku ke kampung halaman, Yogyakarta tercinta demi masa depan akademik dan keluarga inti.
Semoga benar-benar terwujud. Amin.
Dan lagi, setelah mengalami romansa yang telah berakhir, diriku pun sadar.
Entah diriku terlalu percaya diri, atau memang diriku seorang bajingan yang tak tahu diri, namun lingkungan yang kujalani selama 6 bulan terakhir menyadarkanku.
Mungkinkah, diriku rindu? Rindu kepada sosok yang telah kusengaja lupakan?
Dibalik kesengajaan itupun, lingkungan membuatku sadar bahwa tidak semudah itu melupakan seseorang.
Apalagi, seseorang itu benar-benar berarti.
Atau, sengaja melupakan karena tidak bisa terlupakan.
Bajingan. Ya, diriku memang bajingan sepertinya. Dengan mudahnya rindu dengan masa lalu.
Dan lagi, dibalik rindu itupun, banyak pertanda.
Apakah diriku kembali selain untuk keluarga dan studi, juga untuk dirimu kah?
Ya, dirimu. Setahun telah berlalu, bila kau masih ingat itu.
Ingat benar diriku, seseorang yang pertama kali kuberi ucapan pada awal tahun 2013.
Pada akhirnya, aku harus berjuang dan berdoa demi terwujudnya visi & misiku ini.
Semoga, semoga.
Archive for 2014
Ketika Pikiran Tertipu oleh Kenyataan
Apa sih susahnya hidup?
...
Jujur, saya sedang berada pada ambang kebingungan dari yang namanya kehidupan.
Ya, kehidupan itu semakin lama semakin buntet macam ekor babi.
Ngomongin tentang kehidupan, jadi ingat masa kecil nih.
Bebas, lepas, dari pagi sampai sore. Malamnya jadi tawanan rumah...
Pagi sekolah, bertemu teman2. Siang pulang, bermain di sekitar rumah sampai sore.
Jadinya sih, nggak sepenuhnya bebas ya. Tapi rasanya itu, sensasinya itu beda sama dewasa ini.
Dulu, kita nggak punya yang namanya kehirauan, kekhawatiran.
Adanya malah kita dikhawatirkan sama orang tua, apakah saya nakal diluar rumah atau bagaimana...
Ya, saya cuek pada masa kecil itu.
Selagi kita masih dalam pertanggungjawaban orang tua, seenggaknya kita bisa bermain sepuas mungkin.
Tapi, dalam benak indah kita bernostalgia zamannya Nintendo sangat adiktif, coba deh hilangkan benak itu.
Karena, kenyataannya kita sudah bukan anak kecil lagi.
Inilah waktu dimana pertanggungjawaban dari kehidupan sehari-hari kita, ya kita yang mengurusnya.
Mungkin kalau saya belum sepenuhnya mempertanggungjawabkan kehidupan ya,
Karena uang pun masih dikirim oleh orang tua, diri sendiri belum bisa menghasilkan nafkah.
Tapi mari kita coba kesampingkan masalah uang dulu.
Ya, saya adalah mahasiswa yang sedang dilanda dilema, kebingungan, dan segala jenis kecemasan.
Bagaimana tidak, saya merasa selama satu semester ini saya telah salah memilih jurusan.
Kurangnya eksplorasi jurusan sih yang sebenarnya bisa dijadikan alasan.
Namun, apakah bukan diri saya sendiri yang menentukan?
Kenapa bisa salah? Apakah saya harus menyalahkan jurusannya?
Tentu tidak. Diri saya sendiri yang seharusnya membenahi mindset awal saya.
Nah, dari kecemasan tersebut, saya bisa sedikit mengambil hikmah.
"Lihat, simak, pahami, dan beri ulasan. Tiada tujuan tanpa perencanaan."
Ya, mungkin tata bahasa saya hancur atau bagaimana.
Tapi, bodo amat ya. Setidaknya ada sedikit keterkatian dari post ini.
...
Dan lagi, bukan hanya masalah akademik yang saya cemaskan.
Tidak lain lagi, jatuh hati.
(Bersambung...)

