Unsure Feelings of Being Single

Once i met a girl who ran an event that i've attended.
Cheerful, friendly, very nice, literally.
On the end of the event, i asked her if i could get her back home all so sudden.
Yes, she replied.
On the way to her home, we had a nice chat.
And when i drop her home, we continued chatting through texts.

It's weird, actually.
I can say that she had a crush on me.
But i didn't. And it's true.

It came clear enough when she asked me if i can accompany her for buying some stuff.
As always, we had nice chat.
And all of the sudden, when we hang out in some open cafe,
bunch of college students offered me a box of roses.
They said, "It's for our charity, will you buy one, please?"
And of course, if it's for charity, i won't say no.
There. A rose i bought and i gave it to her.

She was shocked. Obviously.
It's an expression for love. And i accidentaly gave her.
But, i really didn't mean it.

Many days later,
and many texts had been sent,
i'm 98% sure if she had a crush on me, totally.
But, i didn't.

What is this feeling?
I've had many ex'es, and i could fall in love,
but not with her.
It's weird. All i want is to befriend with her.

And after months, we had some problems.
And yes, we are seems to be poorly-connected now.

Did you ever felt something related on above?

This unsure feelings,
unexpectedly made some casualties. Emotionally.
I feel bad. At myself.

Is it really the perfect time being single,
or wanted some affection,
or maybe some holding hands-moment that i've been dreamed on.

It feels like her affection is standing next to me,
but i can't barely stand.
I can't even said a word.
It's a pure hesitancy.


She's lovely, to be honest.

A Future, Definite Future

Sudah terasa lama banget nggak nulis di blog ini.
Yah emang karena sibuknya kehidupan SMA, hanging out sama temen2, all of it.
Ngga nyangka aja, udah masuk tahun terakhir berada di SMA N 9 Yogyakarta.
Dan, terasa sedihnya gimana kamu mau melanjutkan studi, terutama ambisimu untuk bisa keluar negeri.

Ini semua berawal dari 2 orang wanita masuk ke kelasku, XII IS 1.
Dengan singkat dan jelas mereka menjelaskan bagaimana kita bisa kuliah di luar negeri, especially Germany.
Disitulah Grace, mahasiswi di sebuah universitas di jerman yang menjelaskan kelasku gimana sih kehidupan disana, mahal nggak sih living costnya, semua seluk beluk kuliah di luar negeri itu angkat bicara.
Dan dari perkataan Grace, "Sejak Februari 2012, aku udah ngga dapet kiriman uang dari Indo karena ibuku meninggal." Wow. semua temen2 di kelas langsung shocked.
"Maka dari itu, aku coba kerja part time yang walaupun nggak seberapa, tapi bisa nutupin semua living cost dan biaya2 lainnya termasuk kuliah, makan, beli sabun beli shampoo gitulah."
Dan tiba2 aku langsung psyched dan diam2 excited banget.
Terlebih lagi mereka bilang, "Kalo kalian berminat, kalian bisa datengin seminar kita besok sabtu. Mungkin tiketnya mahal tapi InsyaAllah bermanfaat bagi kalian yang ingin tau tentang kuliah di luar negeri."
Automatically, aku langsung tulis namaku dan bayar tiketnya.
Cukup flashback pada hari itu, dan move on ke D-Day seminar berlangsung.

At first, aku telat, karena salah satu temenku yang aku minta buat tungguin aku diparkiran nggak bales smsku. Fair enough dan sampe di ruang seminar, aku liat dia dengan enaknya duduk tanpa dosa. Well, at least i'm still trusting you as a friend.
Dan selama Powerpoint Presentations, biasa aja ngga begitu ngena.
Tapi, begitu masuk ke sesi tanya jawab, apalagi permasalahan finance, semuanya terasa real dan patut buat didengar.
Dan akhirnya, semua informasi itu aku dapat. Senang dan gembira, acara lanjut ke unexpected buka bersama sama temen2 cewek dan disusul 2 cowok di McD.
Sehari setelah seminar, aku merasa desperate. The real desperate.
Tentang apa? Masa depan. Kuliah. Dimana aku bakal nglanjutin studiku? Masa aku langsung nikah? Siapa juga yang mau sama lulusan SMA jaman sekarang...

Itulah, setelah sekian lama, feeling yang bener2 ngena karena hal ini bukan untuk bercandaan. Ini semua berkaitan dengan poseku saat wisuda nanti, dan siapa yang jadi istriku, dan berapa anakku.
Kalian yang berumur sebaya denganku pasti lagi ngerasain hal yang sama, dengan orientasi yang berbeda-beda.
It's me, Mohammad Reza Rahardian looking for abroad study chance.
Kenapa aku sangat psyched dengan hal ini? karena aku bermimpi untuk bisa keluar dari negeri ini dan mencari peradaban yang lebih human.

Mungkin aku memang bodoh atau jahat atau apalah, tega-teganya ninggalin Indonesia padahal lahirnya di Jawa, semua keturunan Indonesia, Tapi ya mau gimana lagi, yang namanya passionku untuk berada di Indonesia udah mendekati nol.
Dan dengan semua hal2 kuliah ini, aku ngga sabar buat ngobrolin masa depanku bersama ayah tercinta. Karena aku merasa kalau ibuku tidak pas buat hal ini (Karena ibuku pasti ngga setuju, that's it). Aku pengen tau gimana ayahku bereaksi dengan ambisiku, walaupun keluargaku tau aku bukan anak yang brilliant dalam akademik, yang sangat diharapkan oleh kedua orang tuaku. Aku ingin ayahku mengerti gimana visiku, walaupun semisal aku bener2 kuliah di luar negeri, aku bakal jarang pulang.

Topik ini kembali menyiksa pikiranku diwaktu aku ngobrol sama satu teman seperjuangan.
Dia sepenuhnya setuju kalau kita emang bener2 don't belong di negeri ini.Bahkan aku kaget kalau ibunya dia ternyata lulusan universitas di Perancis. Unbelievable. Despite the fact, dia bilang kalau lulusan S1 luar negeri juga ngga menjamin hidup seneng disini.
Obrolan itu bener2 brainstorming. Dan dia ngomongin sesuatu yang bikin semangatku dan dia makin membara biar bisa kuliah di luar negeri."I hope kita nanti bisa ngobrol2 kaya gini, di sebuah coffee shop di Europe sana. Haha."
Amin, My friend, amin.

Well, that's all i've got for this period.
Desperate tentang masa depan itu boleh, asal kita tau kapan kita bangkit.
Kapan kita bisa berada di belantara racism, liberalism, but peaceful place, Europe.


Keep your dreams high, but your efforts higher.