Nostalgia: Past Excitements and It's Inconvenience

Nostalgia.
Sebuah topik yang sungguh menarik untuk dibahas, sebenarnya.
Keadaan dimana seseorang teringat akan semua hal-hal yang telah lampau terjadi dan pastinya bermakna, ya.
Secara spesifik pun penulis merasa senang dan juga sebaliknya kalau sudah membahas nostalgia.
Yah, semua yang ada di dunia ini juga ada positif-negatifnya kan ya... Hahaha.

Penulis sedang menyandang status mahasiswa baru saat menulis post ini. Ya, yang dimana penulis sudah mulai hidup sendiri tanpa keluarga. Apalagi pergi merantau ke kota, bahkan daerah yang beda jauh dengan kampung halaman, Yogyakarta tercinta.
Kesan pertama merantau adalah senang. Kesenangan sesaat yang terasa asing karena penulis sudah mulai hidup di Tanah Sunda.
Penulis merasakan perbedaan budaya yang lumayan signifikan dengan tanah kelahiran penulis yaitu Tanah Jawa. Tentunya bahasa dong ya. Bahasa Sunda itu unik, lho. Penulis mengakui betul.
Penulis secara sotoy mengatakan kalo Bahasa Sunda itu unik karena pengucapan dan sistem penulisannya mirip-mirip dengan Bahasa Korea. Hahaha bisa aja ya. Dan malah off-topic deh jadinya...

Nostalgia.
Baru saja penulis lulus dari SMA. Dimana teman-teman penulis itu sungguh ngangenin.
Wajar sih, ya... Mayoritas berpendapat bahwa SMA adalah masa-masa terindah sepanjang masa.
Kalo penulis boleh berpendapat sih, ya emang benar SMA itu, kalo Bahasa Inggrisnya tuh memorable gitu, hahaha, Bahaya kalo kebanyakan pake istilah Bahasa Inggris tapi kacau tata bahasanya nanti jadi kayak si Vicky Prasetyo si bangsat kebanyakan konspirasi...
Penulis pun merasakan nostalgia zaman SMP. Waktu itu penulis suka banget yang namanya genre musik post-hardcore. Kalo orang-orang sini bilang, horok-horok. Hahaha
Berbanding terbalik sama apa yang penulis dengar baru-baru ini. Yaitu Ballad. Kebangetan ya jauh banget perbandingannya...
Sejujurnya juga doyan Ballad dari jaman TK-SD dengerin Chrisye sama Westlife. Walaupun Westlife sebenarnya masuk genre musik pop... Tapi banyak lagu-lagu Westlife berasa Ballad gitu... #sotoy
Sejujurnya lagi nih, penulis jadi doyan genre musik zaman sekarang. Ya ngga zaman sekarang juga sih ya, karena teman-teman penulis banyak yang nggak begitu suka. Sebut saja K-Pop.
Ya, namanya juga selera sih. Penulis aja baru suka K-Pop disaat stress persiapan buat Ujian Nasional.
Seneng-seneng gembira gimana gitu dengerin cewek-cewek udah cakep, pinter nyanyi lagi. Iya nggak sih... Hahaha.
Alhamdulillah juga penulis bukan tipe orang yang fanatik. Jadi kalo suka sesuatu ya nggak yang berlebihan. Cukup suka dan mengagumi saja. Cukup prihatin juga sih sama para fanatik K-Pop yang terkadang suka ngeganggu orang-orang sekitar dengan nyanyian mereka secara blak-blakan, seringnya sih di kelas. Mending ya kalo suaranya bagus, enak didengar gitu,,, Kebanyakan pada nggak sadar kalo suaranya itu... #sensor

Sebenarnya sih, penulis agak males membahas bagian suramnya nostalgia atau bagian inconvenience dari post ini.
Pembaca pasti juga pernah merasakan yang namanya nostalgia zaman nggak enak, khususnya problema asmara. Yaaaaaaah asmara muluk daaaaaaahhh...
Payah ya. Dikit-dikit larinya ke problema asmara. Ya, memang umum sih...
Lagipula asmara itu kan memang sesuatu yang membuat hati kita berdebar-debar... Cieilaaaahhhh.
Penulis sedang menulis apa yang sedang penulis asumsikan secara umum sih.
Kebanyakan lagu-lagu kan membawa topik asmara kan ya... Jadi secara sotoy lagi, penulis menyimpulkan bahwa yang umum itu adalah asmara... Haaah penulisnya nyak-cot yah. Banyak bacot hahaha.
Asmara, asmara, asmara.
Pepatah mengatakan, tiada asmara maka tiada kehidupan indah berdua. Itu teh pepatah atau penulis yang ngarang ya bingung juga sebenernya...
Sudah lama penulis jomblo. Kalo nggak salah sih 3 tahun ya. Nggak begitu inget.
Kenapa penulis membawa-bawa topik jomblo?
Karena sebentar lagi ada malam keakraban fakultas, dan lagi diinfokan bahwa malamnya bakal ada momen-momen romantis yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Entah itu bacotan panitia atau tidak tapi hal tersebut membuat penulis gundah gulana... Hahaha nyak-cot banget.
Jadi dari berita tersebut, banyak yang mulai bergerak untuk mencari pasangan biar makrabnya nggak jadi jomblo miris gitu...
Penulis pun galau. Cieileh pake galau segala nih ye...
Apakah penulis harus memulai sebuah pijakan asmara, atau tidak?
Soalnya, penulis punya problema. Bukan problema juga sih, cuma ya penulis punya visi buat kehidupan. Baaah...
Penulis mengambil hikmah dari asmara-asmara yang pernah dijalani sebelumnya dan hikmah tersebut adalah:
"Kalau bisa, pacaran kalau udah lulus dan sudah bekerja. Biar langsung nikah."
Penulis bervisi seperti itu karena penulis berusaha sebisa mungkin untuk menghindari yang namanya zina.
Dih penulis sok alim ih... Ya terserah penulis dong~
Dan lagi, yang membuat penulis berusaha untuk bersikeras menjadi jomblo lurus adalah:
Orangtua penulis pacaran setelah menikah.
Maksudnya, pernikahan itu peristiwa yang sakral sehingga penulis berasumsi bahwa bila sudah menikah, sebisa mungkin nggak akan cerai karena cerai itu sangat dibenci oleh Tuhan. Dan, pernikahan itu bukan main-main.
Nah, poin yang sangat kekeuh dan tegas adalah "bukan main-main".
Sebisa mungkin ya. Sebisa mungkin penulis ingin sekali menjadikan visi tersebut terkabul di masa depan.
Seperti halnya kuliah, kita sudah berada pada masa dimana kita bukan anak kecil lagi.
Sudah bukan zamannya cinta monyet lagi.

Jadi, post ini seperti post-post sebelumnya, suka off-topic.
Tapi ya namanya juga menulis. Kalo Bahasa Jepangnya sakubun. Artinya mengarang.
Karangan dari kisah nyata penulis. Selama menjalani hidup sebagai mahasiswa baru.

Alhamdulillah... Masih bisa menulis di blog ini.
Terimakasih banyak ya buat para pembaca! Walaupun yang baca cuma sedikit, tapi no problemo!

Leave a Reply